Tujuan : Anak-anak mengerti bahwa Allah Bapa menawarkan kasih tidak bersyarat dan pengampunan untuk mereka.
Super kebenaran : FORGIVE OTHERS AS YOU WANT TO BE FORGIVEN
Ayat Penuntun : Kejadian 45 (Genesis 45)
Ayat Hafalan : Efesus 4:32 (BIS)
Sebaliknya, hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni sama seperti Allah pun mengampuni kalian melalui Kristus.
Ephesians 4:32 (NLT)
Instead, be kind to each other, tenderhearted, forgiving one another, just as God through Christ has forgiven you.
Games
Lomba mengambil atau memindahkan kacang atum bulat yang warna putih dengan sumpit dari 1 tempat ke tempat yang lainnya.
Pembuka
Bawalah sebuah tas ransel besar, beberapa buku berat yang telah dilabeli dengan beberapa jenis perasaan misalnya kecewa, marah, tersinggung, pahit dan masih banyak lagi. Serta siapkan sebuah bantal ringan yang dilabeli dengan Kasih Yesus (pastikan ukuran buku-buku dan bantal bisa dimasukkan ke dalam tas ransel tersebut). Minta salah satu dari anak-anak untuk maju membawa tas tersebut. Jelaskan bahwa tas ransel ini mewakili hati kita, sedangkan buku-buku adalah perasaan kita. Peragakan bahwa setiap kita kecewa akan orang lain, kita simpan satu buku di dalam tas. Lalu kita marah, kita simpan lagi satu buku. Tersinggung akan perkataan orang lain, simpan satu buku lagi, begitu terus-menerus. Ransel itu akan bertambah semakin banyak isinya. Dan kita bawa tas ransel tersebut kemana-mana. Tanyakan kepada anak-anak respon mereka ketika mereka harus bawa tas tersebut kemana-mana, bisa diperagakan sambil berjalan, duduk dan lain-lain. Ransel itu akan menganggu dan memberatkan karena isinya sangat banyak. Supaya kita merasa ringan dan nyaman, tentu buku-buku tersebut harus dikeluarkan semua. Hari ini, kita akan belajar dari cerita Yusuf bagaimana cara meringankan RANSEL HATI kita.
Cerita : Yusuf memaafkan saudara-saudaranya
Yusuf tidak sanggup lagi menahan perasaannya di hadapan pegawai-pegawainya Karena itu disuruhnya mereka meninggalkan ruangan itu supaya ia dapat menyatakan kepada saudara-saudaranya siapa dia sebenarnya. Setelah semua pegawainya meninggalkan ruangan, menangislah Yusuf keras-keras, sehingga orang-orang Mesir di luar ruangan mendengarnya, dan sampailah kabar itu ke istana raja. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Saya ini Yusuf. Masih hidupkah ayah?" Melihat itu saudara-saudaranya takut sekali sehingga tidak dapat menjawab. Lalu kata Yusuf kepada mereka, "Marilah ke sini." Mereka mendekat, dan dia berkata lagi, "Saya Yusuf, yang telah kalian jual ke Mesir. Jangan takut atau menyesali dirimu karena kalian telah menjual saya. Sebenarnya Allah sendiri yang membawa saya ke sini mendahului kalian untuk menyelamatkan banyak orang. Sekarang baru tahun kedua dari masa kelaparan, dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau panen. Allah telah membawa saya mendahului kalian untuk menyelamatkan kalian dengan cara yang mengherankan ini, dan untuk menjamin keselamatanmu dan kelanjutan keturunanmu. Jadi, sebetulnya bukan kalian yang menyebabkan saya ada di sini, melainkan Allah. Dia telah menjadikan saya pegawai tertinggi raja Mesir. Saya diserahi kuasa atas seluruh rumah tangganya dan seluruh Mesir. Sekarang, cepatlah kalian kembali kepada ayah dan katakanlah kepadanya bahwa Yusuf, anaknya, berkata begini, 'Allah telah menjadikan saya penguasa atas seluruh Mesir; datanglah selekas mungkin. Ayah dapat tinggal di daerah Gosyen, dekat dengan saya--ayah, dengan anak cucu, domba, kambing, sapi dan segala milik ayah. Jika ayah ada di Gosyen, saya dapat memelihara ayah. Masa kelaparan masih berlangsung lima tahun lagi dan akan saya usahakan supaya ayah, keluarga dan ternak ayah jangan kekurangan apa-apa.'"
Kata Yusuf lagi, "Sekarang kalian lihat sendiri, juga engkau Benyamin, bahwa saya benar-benar Yusuf. Katakanlah kepada ayah kita betapa besar kuasa saya di sini, di Mesir, dan ceritakanlah kepadanya segala yang sudah kalian lihat. Lalu cepat-cepatlah bawa dia kemari."Sesudah itu ia memeluk Benyamin, adiknya itu, lalu menangis; Benyamin juga menangis sambil memeluk Yusuf pula. Kemudian, dengan masih menangis, Yusuf memeluk semua saudaranya dan mencium mereka. Setelah itu mereka mulai bercakap-cakap dengan dia.
Ketika di istana raja terdengar kabar bahwa saudara-saudara Yusuf datang, raja dan pegawai-pegawainya ikut senang. Lalu berkatalah raja kepada Yusuf, "Suruhlah saudara-saudaramu itu membebani keledai mereka dengan gandum dan pulang ke Kanaan untuk menjemput ayah dan keluarga mereka lalu pindah ke mari. Aku akan memberikan kepada mereka tanah yang paling baik di Mesir, dan mereka akan dapat hidup dengan berkecukupan dari hasil tanah itu.Suruhlah mereka juga membawa dari sini beberapa kereta untuk istri dan anak-anak mereka yang masih kecil, dan untuk menjemput ayah mereka. Mereka tak perlu memikirkan barang-barang yang terpaksa mereka tinggalkan, karena yang paling baik di seluruh Mesir akan menjadi milik mereka."
Anak-anak Yakub melakukan perintah raja itu. Yusuf memberikan kepada mereka beberapa kereta, sesuai dengan perintah raja, dan juga bekal untuk perjalanan. Diberikannya juga kepada mereka masing-masing satu setel pakaian baru, tetapi kepada Benyamin diberinya tiga ratus uang perak dan lima setel pakaian baru. Ia mengirimkan kepada ayahnya sepuluh ekor keledai yang dibebani dengan barang-barang yang terbaik dari Mesir, dan sepuluh keledai lagi yang dibebani dengan gandum, roti dan makanan lain untuk dimakan dalam perjalanannya ke Mesir. Kemudian ia memberangkatkan saudara-saudaranya, sambil berkata kepada mereka, "Jangan bertengkar di jalan."
Mereka meninggalkan Mesir dan pulang ke Kanaan kepada Yakub, ayah mereka. "Yusuf masih hidup!" kata mereka kepadanya. "Dia penguasa atas seluruh Mesir!" Mendengar berita itu, Yakub termangu-mangu, dan ia tidak percaya kepada mereka. Tetapi setelah mereka menceritakan semua yang dikatakan Yusuf kepada mereka, dan ketika ia melihat kereta yang dikirim Yusuf untuk menjemputnya dan membawanya ke Mesir, sadarlah ia dari lamunannya. "Anakku Yusuf masih hidup!" katanya. "Hanya itulah yang kuinginkan! Aku harus pergi dan melihatnya sebelum aku mati."
Penutup
Dari cerita hari ini , kita belajar dari Yusuf untuk mengampuni. Setelah mengalami perbuatan jahat yang dilakukan oleh saudara-saudaranya, Tuhan membawa Yusuf menjadi seseorang yang berkuasa di Mesir. Sesungguhnya sangat mudah untuk Yusuf membalas perbuatan saudara-saudaranya dengan kekuasaan yang dia punya. Tetapi Yusuf memilih untuk tidak melakukannya, Kasih Tuhan memampukan Yusuf untuk mengosongkan RANSEL HATInya.
Tunjukkan ransel yang sebelumnya kita penuhi dengan buku
Ransel hati kita yang dipenuhi kemarahan, kekecewaan, kepahitan dan mungkin masih banyak lagi hal lain yang tidak menyenangkan. Jelaskan kepada anak-anak bahwa mengampuni itu seperti mengeluarkan seluruh isi bawaan ransel hati kita. Ketika kita mengeluarkan semua buku-buku tersebut, ransel tersebut terasa ringan. Mengampuni itu adalah pilihan yang akan meringankan dan membebaskan hati kita . Buku-buku itu masih ada. Jelaskan kepada anak-anak bahwa mereka bisa tidak lupa dengan hal yang tidak mengenakkan. Tetapi dengan mengampuni itu seperti mereka memilih untuk tidak membawa beban perasaan negatif tersebut kemana-mana, melainkan meletakkannya.
Ketika kita mengampuni itu memberikan kelegaan, ketenangan dan bahkan sukacita buat diri kita sendiri, itulah mengapa kita selalu diajarkan untuk mengamuni. Selain itu ternyata semua perasaan yang kita rasakan ini (sambil menunjukkan ke buku-buku tebal tadi) itu juga bisa dirasakan oleh orang lain karena perbuatan, perkataan kita. Oo oo ooo.. ternyata orang di sekitar kita bisa itu parents kita, our sibilngs, friends atau teacher siapapun bisa juga merasa jengkel dan marah seperti apa yang kita rasakan. Dan ini juga adalah salah satu hal yang sangat penting kenapa kita perlu mengampuni, karena kita juga perlu diampuni.
FORGIVE OTHERS AS YOU WANT TO BE FORGIVEN
Kita juga bisa salah dan bikin orang jengkel karena itu hari ini untuk kebaikan kita sendiri kita perlu melakukan hal ini FORGIVENESS.. FORGIVE OTHERS AS YOU WANT TO BE FORGIVEN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar