Tujuan : Anak-anak mengerti ketaatan Abraham kepada Allah merupakan gambaran kasih Allah Bapa yang memberikan putraNya Yesus sebagai ganti kita.
Super kebenaran : WE DON’T OBEY TO BE LOVED, WE OBEY BECAUSE WE ARE LOVED
Ayat Penuntun : Kejadian 22:1-19 (Genesis 22:1-19)
Ayat Hafalan : Mazmur 103:13 (TB)
Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
Psalm 103:13 (NLT)
The Lord is like a father to his children, tender and compassionate to those who fear him.
Games
Persiapkan 5 ember di lantai dan atur sedemikian rupa, di mana setiap ember memiliki point masing-masing. Misalnya ember terdekat diberi point 10, yang terjauh diberi point 50. Beri setiap peserta games masing-masing beberapa buah bola.. dan minta mereka melemparkan ke dalam ember. Pemenang adalah yang mendapatkan point tertinggi.
Pembuka
Bawalah alat peraga berupa gambar aneka peraturan atau kertas bertuliskan PERATURAN. Minta anak-anak menyebutkan apa saja peraturan di rumah, di sekolah atau lingkungan sekitar yang mereka harus lakukan.
Contohnya :
· Peraturan di rumah : harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah terlebih dahulu baru boleh bermain, tidak makan sambil menonton TV, mengembalikan barang-barang ke tempatnya, ada waktu tertentu untuk bermain gadget.
· Peraturan di sekolah : memakai seragam lengkap, datang tepat waktu, tidak boleh makan di kelas.
· Memakai sabuk pengaman ketika di dalam kendaraan, tidak buang sampah sembarangan.
Diskusikan beberapa pertanyaan di bawah ini dengan anak-anak :
· Enak nda sih kalau kita diberi aturan?
· Apa yang biasanya kalian lakukan saat diberi aturan? Segera taat, taat tapi terpaksa daripada dimarahi, atau selalu membantah dan melawan aturan tersebut?
Seringkali sebagai anak-anak, kita merasa aturan itu merepotkan banget. Sehingga tidak jarang, kita bersungut-sungut atau justru bertengkar dengan orangtua kita. Hari ini kita akan mendengarkan cerita tentang respon Abraham, apa yang ia lakukan dengan perintah yang diberikan Tuhan kepadanya.
Cerita : Abraham mempersembahkan Ishak
Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetiaan Abraham. Allah memanggil, "Abraham!" Lalu Abraham menjawab, "Ya, Tuhan." Kata Allah, "Pergilah ke tanah Moria dengan Ishak, anakmu yang tunggal, yang sangat kaukasihi. Di situ, di sebuah gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu, persembahkanlah anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku."
Keesokan harinya pagi-pagi, Abraham membelah-belah kayu untuk kurban bakaran dan mengikat kayu itu di atas keledainya. Ia berangkat dengan Ishak dan dua orang hambanya ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Pada hari yang ketiga tampaklah oleh Abraham tempat itu di kejauhan. Lalu ia berkata kepada kedua hambanya itu, "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Saya dan anak saya akan pergi ke sana untuk menyembah TUHAN, nanti kami kembali kepadamu." Abraham meletakkan kayu untuk kurban bakaran itu pada pundak Ishak, sedang ia sendiri membawa pisau dan bara api untuk membakar kayu. Ketika mereka berjalan bersama-sama, Ishak berkata, "Ayah!" Abraham menjawab, "Ada apa, anakku?" Ishak bertanya, "Kita sudah membawa api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?" Abraham menjawab, "Allah sendiri akan menyediakan anak domba itu." Lalu keduanya berjalan terus.
Ketika mereka sampai di tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham, ia mendirikan sebuah mezbah dan menyusun kayu bakar itu di atasnya. Lalu diikatnya anaknya dan dibaringkannya di mezbah, di atas kayu bakar itu. Setelah itu, diambilnya pisaunya hendak membunuh anaknya. Tetapi malaikat TUHAN berseru kepadanya dari langit, "Abraham, Abraham!" Jawab Abraham, "Ya, Tuhan!" "Jangan kausakiti anak itu atau kauapa-apakan dia," kata TUHAN melalui malaikat itu. "Sekarang Aku tahu bahwa engkau hormat dan taat kepada-Ku, karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku." Lalu Abraham memandang ke sekitarnya dan melihat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam semak-semak. Abraham mengambil domba itu lalu mempersembahkannya kepada TUHAN sebagai kurban bakaran pengganti anaknya.
Abraham menamakan tempat itu "TUHAN menyediakan yang diperlukan". Dan sampai sekarang pun orang mengatakan "Di atas gunung-Nya TUHAN menyediakan yang diperlukan". Sekali lagi dari langit malaikat TUHAN berseru kepada Abraham, "TUHAN berkata: Aku bersumpah demi nama-Ku sendiri, karena engkau telah melakukan hal ini dan tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku, Aku akan memberkati engkau dengan berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit dan sebanyak pasir di tepi laut. Anak cucumu akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Semua bangsa di bumi akan memohon kepada-Ku supaya Aku memberkati mereka sebagaimana telah Kuberkati keturunanmu--karena engkau telah mentaati perintah-Ku."
Setelah itu kembalilah Abraham kepada kedua hambanya, lalu mereka bersama-sama pergi ke Bersyeba, dan Abraham menetap di sana.
Penutup
Ada 2 hal yang dapat kita teladani dari cerita Abraham :
1. Yang pertama adalah ketika Abraham mendengar perintah dari Tuhan, keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia segera melakukannya dan tidak mempertanyakanperintah Tuhan tersebut! Berapa banyak dari kita yang sering NEGO terlebih dahulu ketika harus melakukan suatu aturan? Misalnya kita baru mau taat jika diberi reward. Tetapi Abraham, ia tidak taat setengah-setengah ataupun terpaksa. Ia taat sepenuhnya kepada Bapa.
2. Yang kedua, seruan Malaikat Tuhan dalam Kejadian 22:12 yang menyatakan bahwa Abraham takut akan Allah, sehingga ia tidak segan-segan menyerahkan anaknya yang tunggal. Mengapa Abraham mampu taat sepenuhnya kepada Bapa? Apa arti takut akan Allah di ayat ini?
§ Kejadian 22:12 (BIS) : "Jangan kausakiti anak itu atau kauapa-apakan dia," kata TUHAN melalui malaikat itu. "Sekarang Aku tahu bahwa engkau hormat dan taat kepada-Ku, karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku."
§ Kejadian 22:12 (TSI) : “Dia berkata kepada Abraham, “Jangan lakukan apa pun terhadap anakmu itu! Sekarang Aku tahu bahwa kamu percaya penuh dan taat kepada-Ku, karena kamu tidak segan-segan menyerahkan anakmu satu-satunya yang sangat kamu kasihi itu kepada-Ku.”
Yang memampukan Abraham taat penuh adalah karena Abraham tahu dengan jelas bahwa Ia dikasihi oleh Bapa. Ia percaya Bapa selalu ingin yang terbaik untuk dirinya. Taat sepenuhnya adalah bentuk rasa kagum, hormat, dan kasihnya kepada Bapa karena ia terlebih dahulu dikasihi.
WE DON’T OBEY TO BE LOVED, WE OBEY BECAUSE WE ARE LOVED.
Minggu lalu, kita semua telah mendengarkan cerita salib dan kebangkitan Yesus. Begitu besar kasih Allah Bapa yang memberikan putraNya Yesus sebagai ganti kita. KasihNya buat hidup kita memampukan kita untuk hormat dan mengasihi Bapa dengan menjadi anak-anak yang taat.
Tutup cerita hari ini dengan eksperimen berikut :
Alat peraga yang dibutuhkan : 1 liter botol berisi air hingga penuh & 1 sachet tomat
Cara eksperimen : ( https://youtube.com/shorts/kWHk9pIpdaM?si=tP5guI3J26n6d6z8 )
· Jatuhkan sachet tomat tersebut ke dalam botol, maka sachet tersebut akan mengapung. Jelaskan kepada anak-anak bahwa sachet tomat ini seperti hati kita, ketika hati itu dipenuhi dengan kasih Tuhan, kita akan selalu merasa damai sejahtera.
· Tutup botol hingga rapat.
· Tekan (squeeze) botol tersebut dan perhatikan bahwa sachet tomat itu akan tenggelam. Ketika kita tidak taat, melawan (digambarkan dengan tekanan terhadap botol) ini akan membuat kita tenggelam, semakin menjauh dari kasih Tuhan. Tetapi kasihNya itu tidak pernah meninggalkan kita.
· Lepaskan tekanan tersebut, sachet tersebut akan mengapung lagi ke atas. Kita akan selalu ditarik kembali oleh kasihNya. KasihNya tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu pegang kita. Begitu besar kasihNya buat hidup kita!
WE DON’T OBEY TO BE LOVED, WE OBEY BECAUSE WE ARE LOVED.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar